Tampilkan postingan dengan label Type Karangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Type Karangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

FRIENDSHIP ????


FRIENDSHIP

SAHABAT ?? FRIENDSHIP ??
Mayoritas orang menerjemahkan arti kata itu menjadi seseorang yang selalu ada saat kita butuh, seseorang yang selalu ada saat kita bahagai dan berduka.
Ya, anggapan itu memang benar.
Tapi lebih sempurna lagi, sahabat adalah seseorang yang kita yakini/ kita percayai tentang kita, orang yang selalu berbagi suka duka dengan kita, orang yang diciptakan untuk bersama kita, walau tidak selalu. Tapi sahabat selalu datang dan ada saat kita membutuhkannnya.
Persahabat tidak terjalin secara otomatis, tanpa kita sendiri memulainya. Persahabat ini membutuhkan proses yang panjang, lama dan membutuhkan banyak sekali pengorbanan yang diberikan.
Persahabatan sering dilanda suka, duka, bahagia, kecewa dan berbagai perasaan lainnya.
Selain itu sahabat terbaik, tidak pernah menutupi kesalahan, jika memang salah ia selalu menunjukkan kesalahan itu, agar kita bisa mengkoreksinya. Atau kata lain, sahabat tidak pernah munafik, menutupi suatu rasa dengan rasa yang lain.

Ibarat sebuah pepatah, jalak selalu datang saat kerbau membutuhkannya
Sahabat juga begitu, ia selalu datang saat kita membutuhkan

Tidak seperti teman, semut datang apabila ada gula, dan ia tak kan datang apabila garam berlimpah
Teman selalu datang saat kita bahagia, tapi jarang ada saat kita berduka

Itulah perbedaan sahabat dan teman, hanya minoritas teman yang ada saat kita berduka

Dengan adanya seorang sahabat, kita bisa berbagi semuanya. Tapi harus ada batasan diantara semua itu, karena hanya sedikit sahabat yang kuat akan pertempuran batin yang sering terjadi.
Dari berjuta-juta fakta yang ada, persahabatan hancur karena terjadi konflik antar keduanya
Itulah bubuk-bubuk seni dari persahabatan, itulah cobaan yang harus dihadapi
Jika memang sahabatmu kuat menahannya, maka memang ialah harta keduamu setelah keluarga


Saat kau memiliki 2 kunci, 1 kunci berkarat dan 1 kunci yang indah
Tapi kunci berkarat itulah yang sering kau gunakan untuk membuka suatu pintu
Sedangkan kunci yang indah, jarang sekali ada, bahkan tidak pernah
Maka rawatlah kunci yang berkarat itu dengan cinta dan kasih sayang
Karena itu adalah kunci menuju kebahagiaan, bukan kunci yang selalu ikut dalam kebahagiaan

TEMAN memang berjumlah banyak, tapi semakin banyak pula kekuranganya
Sedangkan SAHABAT, semakin sedikit maka semakin sedikit pula kelemahannya


Thank for Reading this Post
See you next time.....

Filshandy Arif Ramadhany

Kamis, 08 November 2012

Lamunan Kemenangan


          Langit berwarna kuning yang baru terlihat setelah malam berlalu. Embun sejuk masih ada diatas dedaunan pohon yang sudah terjaga sepanjang malam. Nyanyian burung kecil sudah menghiasi indahnya pagi. Dan mega merah sang mentari akan mewarnai hari baru ini.
Murid –murid 9c sudah terlihat didalam kelas pagi ini. Bukan untuk menggosip ataupun menyanyi bersama. Tapi semua anak terlihat mengerjakan sesuatu yang sangat penting. Mungkin PR mungkin tugas atau mungkin contekan ulangan. Disela-sela kesuraman itu terlihat Arif yang sedang melamun sendirian menghadap cerahnya langit pagi hari  yang masih diselimuti cahaya mentari yang berkilauan diantara awan-awan yang melayang diangkasa.
Mungkin Arif sedang memikirkan sesuatu yang berat. Dapat dilihat dari tatapannya yang tajam dan pikirannya yang tertuju pada sesuatu.
Hingga akhirnya lamunannya itu berhenti saat bel jam pertama dimulai.
“Kriingggg, kriiiiinggggg, kringggg” bel berbunyi berkali-kali, menandakan jam pertama yang akan dimulai.
“Hei Rif, ngapain pagi-pagi melamum begitu. Lagi jatuh cinta yaa???” tanya Ana yang datang dari depan pintu
“Eh, enggak koq An, Cuma lagi mikir aja. Daripada ngerjain yang gak jelas kayak temen-temen” jawab Arif sekenanya.
“Owh, kukira ada apaan. Eh kamu udah ngerjain tugas Biologo belum? Yang 10 soal itu?” tanya Ana lagi
“Ehhmmm, kayaknya udah deh An. Bentar tak lihat dulu” balas Arif
Lantas Arif celingukan mencari sesuatu dalam tasnya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan buku SiDU warna biru.

“Kalau udah aku nyontek ya. Karena kemaren aku sibuk belajar buat Matematika nanti” kata Ana
“Ini An, udah koq, tapi nanti kalau udah taruh aja dimejaku ya. Aku mau kebelakang dulu”
“Siap Rif”
Arif pun berlalu melewati pintu, menuju kekamar mandi yang jauh dibelakang sekolah. Ia masih terus berfikir, membuat ia lupa apa tujuannya kebelakang. Hingga akhirnya ia sampai didepan kamar mandi. Ia masih bimbang masuk kekamar mandi atau tidak. Akhirnya tujuannya pun tak tersampaikan. Dengan langkah yang sedikit gontai. Ia kembali kekelas.

Semetara itu suana dikelas masih saja suram. Guru matematika yang sedari tadi belum masuk kelas membuat kelas 9c makin bimbang. Karena hari ini. Jam pertama ini. Mereka harus ulangan matematika yang menentukan nilai baik tidaknya.
Was-was dan gelisah penduduk 9c. Tetap merenung menunggu Pak Dian yang tak kunjung datang.
“Selamat pagi anak-anak” terdengar suara laki-laki muda yang membahana, menggema dikelas 9c yang masih ada dimasa kesuraman.
“Selamat pagi pak” balas anak anak seluruhnya.
“Ayo keluarkan selebar kertas, dan alat tulis. Masukkan semua buku apapun yang ada dimeja, dibangku atau dikolong meja. Saya ingin melatih kejujuran kalian.” Suara tegas itu kembai terdengar.
Dag-dig-dug. Suara jantung anak kelas 9c bila didengarkan dengan teliti melalui alat bantu. Arif pun akan mencoba kemampuannya setelah semalaman ia belajar. Mulai dari jam 18.30 hingga jam 02.00 ia belajar tentang matematika. Ia berharap semoga semua kerja kerasnya semalaman tidak mendapatkan hasil yang buruk. Semoga ....
Segera semua anak mengeluarkan selembar kertas dengan sebatang pensil serta penghapusnya. Satu persatu soal dibagikan dan semua anak mulai mengerjakannya.
Suram menyeruak dikelas 9c..
Mata Pak Dian terus melirik kearah kanan kiri atas bawah dan segala arah. Semua anak mengeluarkan keringat dingin karena soal matematika yang begitu sulitnya. Hingga membuat kertas soal penuh dengan hitung-hitungan dan coret-coretan.
Suasana suram dan kebimbangan akan jawaban terus saja merasuk kedalam diri anak-anak kelas 9c. Hingga akhirnya pak Dani berkata
“10 menit lagi. Semua soal hrus dikumpulkan beserta jawabannya.”
Seluruh tangan-tangan kecil anak anak kelas 9c. Bergerak dengan cepat. Hingga waktu 10 menit yang telah ditentukan habis.
“Ayo semua kumpulkan dari belakang kedepan” kata pak Dani
“Rif, aku takut.” Kata Ana pada Arif.
“Ayo semua kita bagi rata. Bagian kanan mencocokkan bagian kiri” kata pak Dani
Satu persatu jawaban dibacakan oleh pak Dani. Hingga 40 soal telah selesai diterangkan. Sekarang waktunya untuk mengetahui hasil dari ulangan tersebut.
“Saya akan membacakan hasil ulangan kalian” kata pak Dani
“Aruf 56, Adin 45, Deka 25, Yanti 46, Bamz, 42, Vino 36, Adi 36, Erna 47, Yudha 25, Indra 56, Ana 55, Wina 36, Nini 54, Dina 56, Via 44, Tya 65, Rendi 44, Rama 45, Yoga 33, Reno 66, Arvi 23, Rey 44 dan Arif 98” pak Dian membacakan satu persatu nilai ulangan matematika.

Akhirnya usaha Arif utuk mendapatkan nilai terbaik tercapai juga. Setelah berhari-hari ia belajar matematika sampai larut malam hanya untuk mendapatan nilai matematika terbaik dikelas.
“Arif terus pertahankan peringkatmu ini. Jangan lupa untuk belajar matematika.” Kata pak Dian
“Siap pak saya akan berusaha” jawab Arif

Ternyata sedari tadi pagi yang ia lamunkan adalah tentang matematika. Karena ini adalah pertama kal Arif bisa menyelesaikan soal matematika dengan sangat mudah. Perjuangan setiap malam ia belajar matematika. Karena hanya matematika lah musuh utama dalam kegiata pembelajaran.  Akhirnya ia bisa mengalahkan musuh satu-satunya itu.
--------.-----
Hingga hampir saat lulusan sekolah. Setiap hari Arif belajar sleuruh mata pelajaran. Setiap hari ia sholat 5 waktu. Setiap hari ia melaksanakan sholat-sholat sunah serta berdzikir ditengah malam.
Hingga waktu kelulusan pun tibas. Arif menjadi juara 1 dengan  nilai tertinggi di Indonesia denga NEM –nya yang sangat tinggi yaitu 40. Disetiap mata pelajaran ia mendapat nilai 10 pepat.

Akhirnya cita-cita Arif untuk meneruskan kesekolah yang ia inginkan dapat tercapai dengan mudah. Perjuangan Arif masih sangat panjang. Dan Arif pun akan terus berjuang mempertahankan seluruh kepintarannya.

Sabtu, 03 November 2012

Rabu Kelas 9C


 Jam pertama belum dimulai semua murid kelas 9C terlihat sudah ada didalam kelas. Bukan untuk menggosip ataupun menyanyi bersama. Tapi kali ini terlihat semua sedang belajar atau mengerjakan PR PKn yang sedari kemarin belum sempat dikerjakan. Karena guru PKn yang ganas dan disiplin, serta galak bagaikan Srigala lapar, yang selalu mengeluarkan murid  yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan, setelah dikeluarkan maka murid itu akan dibawa keruang BP yang selalu terlihat suram. Jika masalah kecil dibawa keruang BP maka masalah itu akan menjadi amat besar. Guru BP akan masuk kelas dan berdakwah selama ber jam-jam. Hingga banyak murid yang bosan hingga tertidur, dan dakwah itu tidak akan berjalan selama sehari tapi berhari-hingga semua murid mengerti. Karena itu murid kelas 9C tidak mau membuat masalah dengan BP apalagi dengan Bu Yul (Guru PKn yang ganas). Itu juga alasan kenapa mereka giat mengerjakan PR.

“Kriingggg, kriiiiinggggg, kringggg” bel berbunyi berkali-kali, menandakan jam pertama yang akan dimulai.
“Yeeeesss, akhirnya selesai juga” kata Via, cewek bawel yang selalu heboh, dan suka mencari perhatian dikelas pada guru atau murid lainnya.
“Trus gw mesti bilang WOW gitu?” sahut Hadi yang ada digerombolan Bamz. Hadi adalah salah satu cowok yang selalu mengomentari setiap perkataan, situasi, perbuatan atau kejadian yang dialami guru maupun temannya sendiri. Kadang penjelasan guru didepan kelaspun dikomentari dengan kata-kata yang kurang enak didengar.
“Harus bangeeeeet” jawab Via dengan logat kemenangannya

Semetara itu pojok kanan depan terlihat 4 anak yang asyik mengobrol karena sudah selesai dahulu mengerjakan PR-nya.
Dayat, Ithul, Anna dan Arif yang terlihat kompak berbincang dan bersenda gurau itu. Terkadang mereka cuek saja dengan pertempuran atau perang mulut antar kubu Bamz, kubu Tya, kubu Ozhan, kubu Wahyu, kubu Indra, kubu Ean, kubu Vino atau kubu-kubu buatan yang lainnya. Sedangkan mereka sendiri jarang suka mengikuti peperangan mulut itu. Karena mereka tak suka membuat kelas 9C semakin terpecah belah.

“Selamat pagi anak-anak” terdengar suara perempuan dengan wibawa yang tinggi.
“Selamat pagi bu” balas anak anak seluruhnya dengan diikuti suasana diam diakhirnya.
Ditandai dengan suasana diam dan duduk yang baik adalah suatu tanda anak2 9C sudah merasa takut dan deg-degan. Apalagi Hadi yang sedari tadi belum selesai mengerjakan PR-nya.
“Sekarang kumpulkan semua tugas yang saya berikan minggu lalu. Silahkan cepat!!!!!” suara perempuan setengah baya yang membuat anak-semakin takut
“Ayo cepat!!!!!” teriakan kedua terdengar setelah anak-anak tidak merespon.
Segera semua anak bergegas berlari kedepan meja guru dan mengumpulkannnya secara rapi. Setelah semua terkumpul. Bu Yul mulai menerangkan pelajaran PKn tentang Otonomi.
“Siapa tahu apa hakekat dari Otonomi?” tanya Bu Yul
Diam kembali menyeruak..
“Kenapa tidak ada yang menjawab?” tanya Bu Yul kembali
Suasana masih dingin. Akhirnya dengan terjadinya dinginnya suasana. Bu Yul menerangkan apa itu Otonomi panjang dan lebar (sama dengan Luas). Walaupun semua murid terlihat serius dengan ocehan Bu Yul, tapi yang mendengarkan serius hanya beberapa anak saja. Semua ada yang melamun, bosan, mengantuk (padahal masih pagi), ada juga yang terlihat memejamkan mata tanpa bersandar.
Akhir jam PKn akan segera berakhir dan akan digantikan pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran yang juga dianggap membosankan oleh beberapa siswa dikelas. Akhirnya pelajaran Bahasa Indonesia dimulai dengan dibimbing oleh Bu Wan. Guru yang berasal dari keturunan Cina. Jam pelajaran Bahasa Indonesia dimulai dan diakhiri dengan banyak siswa yang tertidur. Hingga akhirnya bel berbunyi.
“Kriingggg, kriiiiinggggg, kringggg” bel berbunyi berkali-kali, menandakan jam pelajaran Bahasa Indonesia telah habis dan berganti dengan pelajaran IPS
“Yeeeees, akhirnya IPS kembali lagi” kembali lagi Via berteriak saat Bu Wan sudah pergi keluar pintu.
Dan akhirnya perang mulutpun terjadi lagi antar kubu Via dan kubu Hadi. Sampai datanglah Pak Ris, guru IPS yang super tampan, gagah, wibawa, bijaksana, sangat muda, keren, humoris, alim dan pastinya pintar. Banyak anak perempuan yang mengidolakan Pak Ris.
“Selamat siang anak-anak yang sejahtera dan sentosa” sapa suara laki-laki berumur 21 tahun yang terlihat berwibawa dengan kesabaran yang memuncak.
“Seeeeeeeeeeeeeellaaaaaaaaaaamaaaaaaaaaat siiiiiiiiiiiiaaaaaaaaaaaaang paaaaaaaaaak” jawab anak-anak dengan nada dipanjang-panjangkan, agar Pak Ris terlihat senang.
“Hari ini kita akan mempelajarai tentang apa itu Perubahan Sosial Budaya. Sebelum saya menjelaskan, saya punya pertanyaan untuk kalian. Yang bisa menjawab silahkan mengacungkan tangan.” Terang Pak Ris.
“Jika kalian dalam keadaan telanjang dan belum merasakan makan sama sekali dan perut kalian terasa lapar yang teramat sangat, dan melihat seseorang membawa satu stel pakaian dan sepiring nasi. Apakah yang kalian akan perbuat dahulu? Makan dahulu atau memakai pakaian dahulu?.
“Makan dulu Pak” jawab Ozhan
“Pakaian dulu Pak” teriak Via
“Kedua-duanya Pak” jawab Hadi
“Tidak keduanya Pak” jawab Indra

“Saya mau tahu dulu” kata Ana. “Apakah orang itu perempuan atau laki-laki?” lanjut Ana. “Karena jika orang itu perempuan maka saya masih bisa menjaga diri dan saya. Tapi jika laki-laki, saya harus lari karena malu yang amat sangat” terang Ana.
“Saya juga mau tahu dulu Pak, Apakah orang itu membawa pakaian dan makanan itu untuk saya atau untuk yang lain. Karena jika bukan untuk saya. Saya juga akan malu Pak” terang Dayat yang sedari tadi diam memikirkan jawaban
“Saya makan dulu Pak, karena setelah saya makan saya bisa menambah tenaga untuk menggunakan pakaian pemberian orang itu” jawab Ithul
“Saya mau berpakaian dahulu Pak, karena saya harus menjaga harga diri saya sebagai manusia terhormat” jawab Vino.
“Saya tidak mau keduanya Pak, karena saya harus bisa bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain” jawab Rama yang selalu bersikap egois.

Begitu banyak jawaban hingga membuat Arif bingung memikirkan jawabannya. Hingga akhirnya Ia mendapat ide untuk menjawab
“Ada pendapat lain?” tanya Pak Ris
“Saya Pak” sahut Arif
“Sebelum saya jawab, saya ingin bertanya pada bapak. Apakah pertanyaan bapak sudah pernah dilakukan penyelidikan secara eksperimentil? Yang saya maksudkan apakah para ilmuwan, sejarahwan, teknologi atau para sarjana diseluruh dunia sudah melakukan percobaan-percobaan macam itu pada berbagai bangsa didunia? Kalau sudah bagaimana ekspresi seorang Bapak Presiden Indonesia yang disuruh telanjang dan tidak disuruh makan berhari-hari?” tanya Arif
Sebelum pertanyaan itu dijawab oleh Pak Ris yang masih memikirkan jawaban dari pertanyaan Arif. Arif kembali mempertanyakan lagi.
“Kalau sudah pernah diadakan percobaan  bagaimana hasilnya? Kalau belum sebaiknya diadakan percobaan dahulu sebelum Bapak mempertanyakan apa yang belum diketahui hasilnya. Bukan main duga menduga atau raba meraba kejadian yang belum pernah terjadi.
Bamz si Ketua Kelas yang pendiam ikut menyokong jawaban dan pertanyaan Arif “Benar itu Pak! Main duga menduga atau main percaya percayaan itu, sebaiknya kita lakukan di masjid atau gereja saja. Bukan dikelas atau ditempat umum. Disini kita harus bekerja secara ilmuwan, secara spesifik. Kita harus tahu bukannya harus tebak menebak atau percaya pada hal yang belum pasti ada”

Akhirnya dengan langkah terakhir Bapak Ris menyerah dengan serangan beruntun dari pasangan Duo Maut Ahli Hukum itu.
“Baiklah Bapak menyerah dari pertanyaan yang Bapak ajukan sendiri, karena memang Bapak bukan ahli Hukum. Dan Bapak akan mendoakan kalian berdua akan menjadi Ahli Hukum, terutama kamu Arif”
“Amiiiiiiiiiiiin” seruan serempak dari satu kelas yang mendukung doa Pak Ris
“Tapi Pak, ada pertanyaan yang harus saya tanyakan lagi. Apakah Bapak masih bisa menjawab?”
“Insya Allah saya akan bisa menjawab” kata Pak Ris lagi
“Kalau jawaban Bapak tentang pertanyaan lagi?” tanya Arif

“Sebenarnya tadi bapak akan menjawab Makan dulu karena ada pepatah yang mengatakan Orang yang tidak makan dianggap tidak berpakaian, dan yang tidak berkerja maka akan tidak makan.” Jawab Pak Ris
“O begitu.. Baiklah saya puas,Pak” balas Arif

“Baiklah anak-anak, karena Bapak sudah kalah dengan pertanyaan Bapak sendiri. Kalian akan saya beri diskon yaitu hari ini tanpa saya beri PR.

“Yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeessssssssss!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” serentak semua anak menjerit bahagia.

Siang itu diakhiri oleh pelajaran IPS yang bersuasana SERU karena perdebatan antara Murid dan Guru. Itulah beberapa suasan` kelas 9C yang terkenal KOMPAK, SERU, MENEGANGKAN, NAKAL, dan benar-benar membuat para guru menggelengkan kepala saat memasuki ruangan kelas 9C.